Memupuk Buah Pengorbanan

Gambar dari crosswalk.com

Gambar dari crosswalk.com

Belum genap dua pekan kita melewati sebuah peristiwa pengorbanan terbaik sepanjang masa. Pada peristiwa itu, seorang Ayah yang kita kenal sebagai Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyembelih anaknya, Ismail ‘alaihissalam, sebuah tragedi bersejarah di mana kita dapat memetik keikhlasan dari lubuk hati yang terdalam. Momen tersebut sangat layak untuk dijadikan main course di daftar menu refleksi kehidupan kita, yakni sudah sejauh mana kita mencoba untuk berkorban dan memperjuangkan keyakinan kita terhadap sesuatu yang dinilai benar.

Praktik di lapangan membuktikan bahwa keyakinan seseorang seringkali mulai pudar dengan adanya indoktrinasi dari pihak-pihak tertentu. Indoktrinasi adalah proses sosialisasi yang cenderung bersifat subjektif. Pada umumnya, hal tersebut dilakukan agar informasi atau pesan yang diberikan dapat diterima secara paksa maupun sukarela oleh komunikan. Metode indoktrinasi yang sering ditemui adalah manipulasi, propaganda, dan retorika, terutama untuk berbagai hal yang berkaitan dengan ideologi, kepentingan politik, maupun kepentingan bisnis. Maka, sangat wajar bila keteguhan hati seseorang seringkali diuji dengan bingkai-bingkai yang ternoda.

Fenomena hati yang gamang dapat muncul sejak duduk di bangku sekolah. Bukan hanya tentang gelisah karena putus cinta, tetapi juga perasaan dilematik seperti memberi manfaat kepada banyak orang melalui organisasi intra sekolah atau fokus kepada agenda akademik untuk memberikan senyuman di bibir orang tua barang sehari. Sebenarnya, kedua hal tersebut dapat berjalan beriringan karena memang sejatinya demikian. Meskipun membutuhkan perjuangan. Perjuangan pun harus melalui jalan yang panjang dan hambatan yang banyak. Melalui perjuangan yang totalitaslah kita dapat mempelajari makna pengorbanan yang hakiki.

Kekecewaan Adalah Hidangan Pembuka

Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap insan yang berkorban untuk menggapai sebuah impian atau target akan menemui kekecewaan pada fase awal prosesnya. Jika ingin mendiskreditkan maknanya, dapat diartikan sebagai kegagalan sesaat. Dikatakan demikian karena dampak kekecewaan tersebut hanya akan menjadi gerbang untuk dapat memetik manisnya buah pengorbanan. Mari belajar dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Menurut Syeikh Tawfique Chowdhury dalam Mercy to the World, Seerah: Makkan Period, setidaknya ada 67 orang yang berhasil mengikrarkan hatinya kepada islam melalui dakwah Rasulullah pada 3 tahun pertamanya. Seperti yang kita tahu, dalam perjalanan dakwahnya pun tidak jarang harga diri beliau dilucuti oleh orang kafir, musuh sekaligus objek dakwah beliau. Tetapi beliau selalu tegar dan tetap optimis bahwa perjuangannya akan berbuah manis suatu saat nanti. Tidak sampai 1500 tahun berselang, populasi umat muslim kini sedikitnya mencapai 1,6 miliar orang. Bahkan setelah Rasulullah wafat, buah pengorbanannya masih terus tumbuh dan dipetik oleh banyak orang di seluruh dunia.

Beralih sedikit ke perspektif bisnis, pada tahun 1886 perusahaan sekelas Coca Cola hanya mampu menjual 9 botol dalam setahun. Namun, siapa sangka saat ini dalam interval waktu yang sama Coca Cola sudah mampu menjual lebih dari 2 miliar botol. Pengorbanan serupa juga dilakukan oleh figur yang dikenal sebagai penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison. Kegigihannya untuk menanamkan ribuan percobaan mampu memanen buah yang mampu menerangi dunia.

Memupuk Sejak Dini

Kembali kepada perjuangan Ibrahim. Seburuk apapun kondisi hatinya untuk memperjuangkan apa yang dianggapnya benar, ia harus tetap mempertahankan mental baja–bukan mental ayam negeri. K.H. Rahmat Abdullah menuliskan dalam “Untukmu Kader Dakwah” bahwa para da’i atau figur penggerak yang memiliki mental ayam negeri yang notabene tidak tahan angin dan mengandalkan jatah makanan olahan, bersiaplah untuk menjemput kiamat dakwah. Maka, yang dibutuhkan saat ini adalah figur-figur yang siap berkorban dan berjuang sedini mungkin. Kita tidak perlu ahli untuk memulai berbicara dan berdakwah, tetapi hanya butuh kepekaan sosial, kepekaan seorang pahlawan untuk mampu menuangkan segelas manfaat dan menghilangkan dahaga mereka yang menanti kehadiran kita dengan penuh cinta karena Allah. Mari sama-sama kita buktikan apakah benar perkataan Sayyid Quthb yang menyebutkan bahwa orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Akan tetapi, orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar.

Mulailah berdakwah dengan cinta, bukan keterpaksaan atau ketersisaan. Selebihnya, biar Allah yang jaga kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s