Mahasiswa Sedang Apa?

DCIM100MEDIA

Mahasiswa adalah sebuah elemen terpenting dalam perkembangan sejarah Indonesia. Sekitar 1 abad lalu, peran mahasiswa di Indonesia sudah mulai muncul meskipun tidak banyak dari kita yang tahu. Mulai dari berdirinya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, Peristiwa Rengasdengklok, sampai runtuhnya Orde Baru. Semua hal tersebut adalah bukti eksistensi mahasiswa di Indonesia yang secara perlahan menurun di generasi serba teknologi seperti hari ini. Rekan-rekan buruh pun sudah membuktikan eksistensinya dengan dijadikan sebuah hari khusus buruh pada tanggal 1 Mei. Pergerakan buruh di Indonesia berawal dari 1897 yaitu dengan lahirnya serikat buruh pertama, Nederland Indies Onderw Genootsch (NIOG), hingga saat ini kita bisa mengenal sosok drg. Ugan Gandar yang menjadi Presiden Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) selama sebelas tahun. Konsistensi gerakan buruh di Indonesia sangat perlu diapresiasi dan dijadikan pelajaran bagi mahasiswa di seluruh Indonesia.

Sebuah pertanyaan besar untuk mahasiswa saat ini adalah, “Untuk apa mereka berstatus sebagai mahasiswa?” Tri Dharma Perguruan Tinggi sebenarnya sudah menjawab itu semua, yaitu (1) Pendidikan dan Pengajaran, (2) Penelitian dan Pengembangan, serta (3) Pengabdian Kepada Masyarakat. Berfokus pada poin 2, kalau dikerucutkan maka akan sampai pada kualitas analisa mahasiswa untuk mendobrak sebuah perubahan dalam bidang apapun. Namun, hal ini perlahan mulai hilang dari lubuk hati mahasiswa saat ini.

Seperti tertulis pada UUD 1945 pasal 28E ayat (2), “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.” Ayat tersebut sangat mulia maknanya jika diimplementasikan dengan baik. Akan tetapi, apa daya kalau mahasiswa saat ini cukup banyak yang memilih sikap diam dari segala hal yang terjadi? Banyak pemicu dari masalah tersebut seperti kepekaan mahasiswa. Kita tidak perlu menjadi ahli untuk membicarakan tentang Money Politics pada proses pemilu, PHK ribuan buruh, atau kenaikan harga sembako. Andai mahasiswa bisa peka dengan dampak yang terjadi dari semua masalah itu, pasti gerakan mahasiswa akan kembali hidup. Bukan hanya peka kepada kekasih hati yang selalu kita agung-agungkan namun lupa dengan bangsa sendiri.

Masalah lain dari mahasiswa saat ini adalah generalisasi makna aksi massa. Saat muncul sebuah seruan aksi, selalu muncul banyak pembicaraan seperti, “Sudah ada kajiannya?”, “Aksinya akan anarkis?”, atau bahkan “Dibayar berapa aksinya?”. Hal-hal tersebut biasanya menjadi alasan yang berujung pada ketidakhadiran dirinya pada aksi massa yang dilakukan oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di kampusnya. Pertanyaannya bukan kenapa dia tidak turun aksi, tetapi apa yang dia perbuat jika tidak turun aksi? Presiden Soekarno pernah memberikan penjelasan mengenai apa itu aksi massa, yaitu Perbuatan, Pergerakan, dan Perjuangan. Semua elemen sangatlah penting. Percuma semua mahasiswa turun dalam pergerakan dan perjuangan jika tidak ada yang melakukan perbuatan (menurut Soekarno, membuat tulisan), karena sebuah aksi massa yang hanya bermodal substansi tanpa eksistensi tidak akan berbuah apa-apa. Kalau tidak menulis, ikut kajian, atau hadir dalam perjuangannya, lantas mahasiswa sedang apa? Terlalu banyak dari kita yang terjebak dengan urusan cinta, game online, dan keharusan untuk lulus dalam waktu cepat. Mati tetapi tak mati, hidup tetapi tak bergairah.

Mahasiswa harus segera menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Bukan lagi menyalahkan kondisi karena terlahir sebagai generasi milenium yang erat dengan internet, terjebak dengan kenyamanan kampus (wifi, ruangan AC, tempat nongkrong), atau semua biaya hidup masih menjadi tanggungan orang lain. Banyak sekali potensi dan ruang gerak yang dapat dimanfaatkan dari kondisi hari ini, jelas jauh lebih banyak. Hanya saja keyakinan dan kepekaan hati mahasiswa untuk berjuang masih belum kokoh. Padahal, kita semua tahu berjuang itu tidak harus bicara isu sosial atau politik, isu budaya, pendidikan, energi, bahkan teknologi sangat butuh kehadiran mahasiswa. Dari sana, mahasiswa pun dapat mendorong sebuah perubahan. Inilah ‘Pekerjaan Rumah’ yang harus sama-sama kita selesaikan untuk menentukan apakah kita ‘lulus’ atau tidak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s