Mengawali Dekade Ketiga, Apa Yang Sudah Dihasilkan?

Gambar dari gatag.net

Gambar dari gatag.net

Mengawali dekade ketiga, apa yang sudah dihasilkan?

16 bulan sudah melewati persimpangan hidup tanpa seorang Ayah. Aku percaya, beliau adalah insan yang menjadi bahan bakar utama untuk membuat hidupku menjadi seperti ini. Layaknya Bintang Antares yang merupakan bintang paling terang di Rasi Bintang Scorpio, hanya ada satu bintang (selain Rasulullah) yang bisa menjadi panutanku sepanjang hidup ini, Ayah. Kerja keras dan lapang dadanya masih menjadi ikhtiar utamaku untuk menggapai mimpiku dan mimpinya yang tidak bisa digapainya.

 

Mengawali dekade ketiga, apa yang sudah dihasilkan?

Sepanjang hari hanya ditemani oleh sepasang bidadari cantik, Ibu dan Istri. Mencoba membangun semangat dan menatap ke depan, meskipun sulit untuk memunggungi keterpurukan masa lampau. Isak tangis, amarah, dan canda tawa menjadi makan pokok kami. Emosiku seperti ombak di musim pancaroba, kadang tenang, kadang bergelombang. Hanya satu kesimpulan yang bisa diambil, pasti aku belum totalitas merawat dan mengayomi sepasang bidadariku ini. Tapi aku yakin, ini akan segera berakhir. Penderitaan ini akan segera berakhir.

 

Mengawali dekade ketiga, apa yang sudah dihasilkan?

Tersisa setengah semester untuk tidak menghasilkan janji palsu bersama rekan di BEM STT NF. Aku yakin, sebagian kawanku di STT NF menaruh harapan yang sangat besar setelah melihat grand design sepanjang November sampai Januari lalu. Aku pun yakin, Februari nanti hanya akan ada adu tembak di antara kami karena ketakutan dan kegelisahan yang kami alami sejak tengah perjalanan. Hanya satu yang aku takuti, aku menjadi penyebab berakhirnya seluruh perjuangan yang sudah susah payah dibangun selama tiga tahun ini. Aku hanya bisa berharap, Allah berikan mukjizat yang membukakan pikiranku untuk kembali mengisi kekosongan di semua hati kawan-kawan di sini.

 

Mengawali dekade ketiga, apa yang sudah dihasilkan?

Kacang lupa kulitnya. Tiga kata yang menggambarkan awal dekade ketigaku. Lima tahun yang lalu, semua langkahku berawal dari gedung empat tingkat di Matraman, SMAN 31. Apa yang sudah aku berikan sampai saat ini? Lalai kepada rekan, harapan kepada adik-adik, lelah kepada Abang-Mba senior, kebanggan yang tertunda kepada Ibu-Bapak guru. Hanya bisa merenung setiap malam. Memandangi bintang di langit dan kembali mengingat berbagai bunga di bumi tempat kita berpijak.

 

Mengawali dekade ketiga, apa yang sudah dihasilkan?

Julukan yang paling tepat untukku adalah orang bodoh. Mengambil resiko tanpa rencana yang panjang dan menggadaikan aset tak bergerak satu-satunya milik Ayah hanya untuk usaha yang rugi dalam waktu kurang dari 1 tahun. Terlalu bodoh untuk bicara implementasi meski sangat kuasai teorikal dan tupoksinya. Menginjak era pasar bebas memaksa aku untuk berpikir lebih keras. Ada satu kepastian untuk menjemput itu, aku harus bisa bersaing tahun depan di dunia internasional. Namun, lagi-lagi hanya sebuah angan. Butuh ikhtiar dan doa yang tak terhitung jumlahnya.

 

Mengawali dekade ketiga, apa yang sudah dihasilkan?

Apa yang sudah bisa aku perbuat? Semoga mampu menginspirasi dan tidak merugikanmu dan orang lain. Meski karya yang aku hasilkan pun belum punya pengaruh apa-apa. Hanya bisa mengemis dukungan dari kawan-kawan dan tuntunan dari Allah. Semoga langkahku tidak terhenti di sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s