Nanoteknologi: Harapan Indonesia

Gambar dari ezhestnesk.ezpub01.byte.no

Gambar dari ezhestnesk.ezpub01.byte.no

Berbicara masalah kemandirian Indonesia memang cukup menghabiskan kosakata, fikiran, dan waktu. Berbicara masalah kemandirian saja sudah menjadi polemik tersendiri. Indonesia saat ini cukup jauh dari kata mandiri, cukup banyak indikator yang tidak terpenuhi. Kegalauan mencari pemimpin negara sejak 1945 hingga tahun ini juga menjadi hambatan utama dalam proses kemandirian sebuah negara. Penyakit lama terkait kepemimpinan pusat yang sering bermuka dua seakan menjadi trauma bagi masyarakat untuk menentukan penerusnya, wajar saja kalau mereka yang tidak memilih kita sebut dengan golongan galau (putih). Karena pada dasarnya mereka bingung pemimpin seperti apa yang mereka butuhkan dan takut menelan “simalakama” lagi.

Aset–yang katanya milik–negara kini semakin mengambang bahkan seakan digadaikan kepada asing. Keberpihakan elit negara kepada golongan konglomerasi dengan berbagai kebijakan yang merugikan rakyat kecil pun semakin memprihatinkan. Kroni-kroni koruptor yang entah sampai kapan bergerak bebas di alam luas. Dan masih banyak hal lainnya yang membuat harapan bangsa kita ini menipis. Padahal cukup banyak potensi Negeri Khatulistiwa ini yang belum termasimalkan potensinya, yang sudah tentu akan membangun harapan dalam proses kemandirian bernegara.

Mochtar Riady Plaza Quantum yang dibangun april dua tahun lalu adalah salah satu bibit harapan kita. Pusat Riset Nanoteknologi yang dibangun di Universitas Indonesia membuktikan bahwa Indonesia mampu mengikuti perkembangan zaman yang nantinya bisa memproduksi hal yang lebih canggih daripada pesawat terbang. Nanoteknologi bukanlah hal yang baru dan berbagai negara pun berlomba-lomba untuk menguasai teknologi super kecil ini. Terbukti di zaman sekarang berbagai hasil penelitian nanoteknologi sudah kita konsumsi.

Dalam perspektif bisnis, produktifitas hasil teliti nanoteknologi ini terbukti bisa menekan harga belanja negara. Beberapa pakar menyatakan, bahwa potensi pengembangan nanoteknologi akan mempercepat produk industri. Diperkirakan selama satu dekade ke depan, akan ada percepatan luar biasa aplikasi nanoteknologi di bidang industri. Berbagai aplikasi nanoteknologi pada produk sudah cukup banyak diterapkan di masyarakat, seperti pada elektronik, kosmetik medis, farmasi, industri makanan, tekstil, keramik, dan lainnya. Berkaca dari hal tersebut, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementrian Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi, serta Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) juga pihak-pihak lain mencoba fokus dalam pengembangan teknologi ini. Bahkan tahun 2007 lalu, LIPI telah mematenkan sebuah alat pembentuk nanopartikel.

Ketua MNI, Nurul Taufiqurrochman, pada Simposium Nanoteknologi dan Katalis Internasional tahun 2007 lalu menyatakan bahwa dengan kemampuan mengetahui karakter nanopartikel, masing-masing bidang dapat diarahkan untuk mencapai kemajuan teknologi yang lebih efisien, hemat, dan ramah lingkungan. Misalnya penelitian tentang nanopartikel baja, teknologi tersebut diatur sedemikian rupa agar mampu membentuk materi baja yang lebih ringan dan hemat tanpa mengurangi kualitas baja tersebut, bahkan partikel nano dalam baja mampu menambah kekuatan baja tersebut. Enya Dewi, Kepala Bidang Nanokimia MNI, beranggapan bahwa pemanfaatan nanoteknologi akan memicu masa depan dengan lingkungan yang lestari.

Perkembangan nanoteknologi begitu mengangkasa terutama dalam dunia komputer. Mengubah ukuran komputer menjadi lebih compact, jutaan resolusi program pun dapat diproses dalam waktu singkat. Dampak serupa juga terjadi pada produk nano tekstil, nano film, obat-obatan nano, dan sebagainya, yang sekarang sudah bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi masyarakat. Nanoteknologi pun juga menarik dikaji sebagai peluang bisnis yang baru.

Kepala LIPI, Prof. Dr. Lukman Hakim menyebutkan, nanoteknologi adalah rekayasa atom dan molekul untuk membangun sifat sesuai keinginan. Karena teknologi ini berskala satu per miliar meter, maka sifat dan fungsi sebuah zat sangat mungkin diubah sesuai keinginan peneliti dan tentu akan menjadi lebih berharga hasilnya. Dan berbagai negara berkembang pun mulai membuka mata untuk berinvestasi dalam penelitian teknologi ini, termasuk Indonesia. Hanya sayangnya, mereka belum bisa bersinergi.

Nanoteknologi mampu membangun harapan kita. Kemandirian suatu negara pun dapat ditunjang pula dengan kemajuan teknologi. Teknologi hanya sebuah bagian dari sekian banyak harapan yang ada di negeri ini. Pedang tak akan tajam jika hanya dihunus tanpa diasah berkali-kali sebelumnya. Maka, pengasahan itu perlu agar tak ada lagi syak wasangka pada negeri indah ini.

Oleh karena itu, seyogyanya pengonsistenan pengembangan sumber daya alam yang ada, diselaraskan pula dengan kualitas manusia yang mendukung untuk mempertajam pedang kita, agar tidak melulu membeli atau meminjam pedang dari tetangga. Karena harapan Indonesia ini tidak akan mampu melangkah menjadi realita tanpa jejak berharga yang kita tinggalkan untuk Indonesia.

 

 


Tulisan ini dimuat dengan judul yang sama pada http://nurulfikri.ac.id/index.php/artikel/item/803-nanoteknologi-harapan-indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s