Sulit Diungkapkan

Sulit diungkapkan, hanya itu yang terucap dalam diriku saat teringat kepingan kenangan yang telah lalu. Kepingan yang insyaAllah akan jadikan kita sepenggal firdaus, kepingan yang tak akan dilupakan, kepingan yang tak akan dijual berapapun harganya, kepingan yang tak akan kubiarkan siapapun merebutnya!

Semua berawal dari masa SMA, masa yang disebut oleh hampir semua mulut di dunia ini sebagai masa kenangan. Kenikmatan terasa, pengalaman dalam hidup didapat, keberhargaan tersimpan.

Di saat pertama injakkan kaki di sekolah tercinta, yang terletak di daerah Kayumanis, Matraman, tak pernah terbayangkan akan menjadi seperti ini nantinya. Mulut yang tak terbuka ini menghambat semuanya, begitu malu diri ini untuk berkenalan dengan setiap mereka. Begitu rendah diri ini di masa itu, terasa ingin cepat keluar dari penjara ini. Sampai suatu saat, ada sesosok inspiratif di sana, siswa IPS yang kini studi di Hubungan Internasional UNSOED. Seri awal Sulit Diungkapkan berawal dari sini. Percikan keberanian muncul dengan bantuan bahan bakar dari semangatnya, suaranya, dan cara berpikirnya, saat itu mungkin aku merasa menjadi orang yang paling beruntung karena Allah tunjukkan jalan untuk masuk ke SMAN 31 Jakarta.

Tahun berikutnya, seri berikutnya dari Sulit Diungkapkan ini makin bergejolak, baik dari pengetahuan, laki-laki, perempuan, sampai suka duka. Kembali muncul sosok laki-laki IPA yang kini studi di Ilmu Politik UI. Cara berpikirnya memaksa diri ini mulai mengkritisi apa arti warna-warni hidup, tak terhitung berapa banyak percikan yang didapat dari dia. Dan begitu banyak pula perempuan yang membuat diri ini bergejolak dalam ke-jahil-an. Dan kembali, Sulit Diungkapkan.

Angka 12 pun kudapat, begitu haru diri ini melihat dua sosok pemercik tadi  saat perpisahan, tak kuasa kutahan cairan hidup ini berjatuhan. Tapi ternyata, itu adalah awal dari seri Sulit Diungkapkan berikutnya. Ya, seri yang sungguh tak terlupakan hingga kini, muncul sesosok yang mengiringi penerangan hidup ini. Saling menerangi, saling menginspirasi, saling menopang, sosok yang tak ingin kulupakan hingga akhir, sungguh.

Hingga kini, sudah hampir 4 tahun kubersamanya, mengenal sosoknya, tak pernah luput pandanganku dengannya saat rapat organisasi. Selalu vokal, membimbing semua orang yang dia kenal dari negatif sampai netral, bahkan sampai positif. Apapun yang terucap dari lisannya seperti telah tertuliskan dalam lintas kehidupan, selalu tepat sasaran, selalu mampu membuka pemikiran setiap insan, tiap jasad tanpa terkecuali selalu ia gerakkan. Ingin kukejar tapi serasa tak sanggup, selalu muncul ide untuk maju dalam pikirnya. Sungguh iri kurasa, iri dengan pria yang lahir 7 bulan lebih awal dariku ini. Sulit Diungkapkan harus seperti apa aku mendampingi dan berterimakasih padanya.

Lepas sudah dari keabu-abuan, aku dan dia, bersama 6 inspirator lainnya terpisah ke segala penjuru Pulau Jawa, dan bertekad 29 Oktober 2016 nanti kembali berkumpul untuk kembali satukan kenangan yang sungguh, Sulit Diungkapkan. Mereka yang membuatku untuk terus bekerja dalam cinta dengan keharmonisan.

Bersama dengan pria kelahiran 17 April ini, suka duka kurasa, tiada bosan ia dengar segala suara dari sepasang bibir ini, dari omong kosong, fakta, sampai harapan, tak terlupa keluhan yang selalu ada saja solusi dari lisannya untuk rapihkan kepelikan hidup ini. Di satu atap, beroda dua bersama, bahkan di bawah langit, di manapun berada, dirinya yang selalu menjadi panutan realitas ini. Sulit Diungkapkan harus bagaimana hutang rasa ini kubayar untuknya. Seperti rasa manis pada gula.

Kawan, tak pernah kurasa ini sebelumnya, tak pernah kudapati sosok yang seperti dirimu selama 18 tahunku di dunia. “Ana uhibbuka fillah”, sungguh aku mencintaimu karena Allah. Ya Allah, kutitipkan senyumnya pada-Mu agar Kau sediakan tempat baginya di surga-Mu kelak. Tak tahu harus seperti apalagi kuungkapkan, sungguh kecintaan ini Allah berikan untuk saling tebar manfaat di antara kita, juga dengan yang lain. Kau sosok yang Sulit (sekali untuk) Diungkapkan, Bro!

Tulisan ini didedikasikan untuk Sahabatku tercinta, yang relakan sisihkan waktu hidupnya bersamaku, @muzlif

Tulisan ini didedikasikan untuk Sahabatku tercinta, yang rela sisihkan waktu hidupnya bersamaku, @muzlif

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s