Di saat pedagang kecil dan negara mulai terlupakan

Orasi di depan pedagang dan mahasiswa

Sudah cukup lama isu ini ada di pikiran saya, mulai gelisah pada saat lihat foto SMS Bu Ayu (Pedagang St. UI) ke @FaldoMaldini (Ketua BEM UI 2012) yang bilang kiosnya mau digusur dan cuma mahasiswa harapan mereka. Hati mulai bergejolak, akhirnya mulai cari info dan sejak itu sampai sekarang melejitlah nama PT KAI di pikiran saya.

Aparat gusur Kios Stasiun Lenteng Agung

Bagi kalian yang punya twitter, pasti tidak asing dengan hashtag #SavePedagangStasiun #KAIvsHumanity sampai #MoneyAboveHumanity yang muncul pada saat saya post tulisan ini. Semua berawal hanya dari upaya dialog antara pihak pedagang dan KAI, saya coba bahas singkat.

Semua itu berawal dari pelaporan salah satu pedagang ke BEM UI, lalu mereka mulai konsolidasi dan dapat kabar terdekat bahwa Kios di St. Lenteng Agung akan digusur. Saya hanya bisa melihat proses penggusuran yang anarkis itu oleh para keparat (eh, aparat) itu, dan dapet kabar kalau @aliabdillah91 (Ketua BEM UI 2013) hampir hilang nyawanya di sana karena jatuh dari peron saat coba tahan aksi gusur paksa aparat yang tanpa dialog terlebih dahulu itu.

Surat dari Komnas HAM untuk PT KAI

Beranjak dari itu, berikutnya kios St. UI, kalau boleh saya bilang, ini stasiun yang advokasinya paling sukses, sampai sekarang kiosnya masih berdiri tegak. Karena siapa lagi kalau bukan pedagang-mahasiswa yang bersatu. 🙂

Lanjut ke St. Pondok Cina, mahasiswa @STTTerpaduNF yang dikomandoi saya sendiri (SosMas @HMIK_NF, yang kini menjadi @BEMSTTNF) mulai kerahkan kekuatan untuk bantu BEM UI dan beberapa mahasiswa dari PNJ, UIN, dan lainnya. Kita memutuskan untuk bantu mereka karena sudah kita kaji terlebih dahulu dan terbukti, KAI itu langgar 8 UU dan mengambil dalih UU penataan untuk lakukan gusur paksa, dan lagi melakukan proses penggusuran yang tak sesuai UU, bahkan KS (Kepala Stasiun)nya tidak ada yang tahu, apa kata dunia? Cukup banyak alasannya, mulai dari mengedepankan kenyamanan penumpang, menata ulang stasiun, dan yang lainnya yang tak bisa saya ingat. Dokumen HMIK yang kita buat bisa dicek di sini kalau gak percaya –> HMIK #SavePedagangStasiun

Aksi sukses, dialog pedagang di Komnas HAM berjalan lancar namun Pak Ignasius Jonan (Direktur Utama PT KAI) tak kunjung mau diajak dialog, dari KAI diwakili oleh DAOP 1. Tak lama setelahnya, Kios St. Pondok Cina mulai digusur pada saat mahasiswa sedang aksi di istana negara untuk meminta Pak Susilo Bambang Yudhoyono selaku Presiden RI tindak lanjuti ini, namun KAI sungguh cerdas memanfaatkan waktu.

Preman disewa KAI untuk gusur Kios St. Pondok Cina

Dan lagi, KAI menyewa preman untuk ikut gusur kios-kios. Alhasil, beberapa mahasiswa luka-luka karena pukulan linggis, ibu-ibu pedagang hanya bisa meratapi kehancuran kiosnya. Tak hanya di sana, itu berlanjut di St. Tebet, St. Bekasi, St. Depok Lama dan St. lainnya.

Banyak sekali foto yang ingin saya tampilkan, mulai dari para pedagang di atas rel, wajah pedagang yang tak tahu musti berbuat apa, tulisan aspirasi pedagang kepada KAI, konsolidasi pedagang-mahasiswa-LBH Jakarta, sampai wajah koordinator penggusuran, Pak Ari Supriadi yang tak mau diajak dialog dengan beribu alasan dan akhirnya hanya bisa kabur naik gerbong wanita, sungguh gak keren.

Hanya ingin makan

Dan sekarang makin menghangat lagi isunya, dengan munculnya gerai kopi modern di St. Gambir, yang katanya akan menyebar di beberapa stasiun jabodetabek. Lagi-lagi komersialisasi stasiun, kaum kapitalis dan produk luar mulai merajai. Bagaimana nasib pedagang kecil dan negara? Katanya dukung produk dalam negeri, kalau begini ya “Yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya, sisa nunggu hancur aja”.

Cukup banyak cara dan mereka tak gentar, lelahkah untuk bela rakyat kecil? Seperti kata @alldofj (Ketua MWA UI Unsur Mahasiswa 2013), ini bukan masalah Starbuck atau Alfamart yang berdiri tegak setelah penggusuran kios.

Mereka itu pedagang, sama-sama mencari laba.  Perbedaannya? Pada alokasi laba. Pengusaha kecil = penghidupan sehari-hari. Pengusaha besar = memperluas usahanya. Dengan begini ya seperti statement saya sebelumnya, ini yang membangkitkan munculnya pencopet-pencopet di kereta, karena kios tempat mereka jualan direbut, ya jangan kaget aja nanti.

Aset negara tak terlihat, warga sendiri ditindas, terdiamkah?

Pedagang tak tahu hidup dengan apa setelah apa yang terjadi

Makanya yang muda bangkit untuk berantas mereka yang tak jelas dan tak bertanggung jawab. Semoga ada solusi bagi mereka pedagang kios di stasiun yang penghidupan utamanya telah direngut.

Semoga tulisan ini bermanfaat, “Lakukan perubahan, gapai impian, kapanpun, di manapun, dengan siapapun.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s